Kamis, 19 Februari 2015
Minggu, 15 Februari 2015
PEMBINAAN MUDA-MUDI BUDDHIS KABUPATEN LAMPUNG TIMUR 2014
KEGIATAN PEMBINAAN MUDA-MUDI BUDDHIS
TAHUN 2014
I.
PENDAHULUAN
Undang–undang Nomor 40 Tahun 2009 Tentang Kepemudaan mengamanatkan bahwa muda-mudi yang selanjutnya
disebut Pemuda wajib mendapatkan
pembinaan dan diberdayakan. Pada pasal 24 ayat 1 dan 2 dijelaskan bahwa pemberdayaan pemuda dilaksanakan secara terencana, sistematis, dan
berkelanjutan untuk meningkatkan potensi dan kualitas jasmani, mental
spiritual, pengetahuan, serta keterampilan diri dan organisasi menuju
kemandirian pemuda. Pemberdayaan sebagaimana dimaksud difasilitasi oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah,
masyarakat, dan organisasi kepemudaan.
Muda-mudi Buddhis sebagai bagian dari pemuda
harapan bangsa adalah mereka yang berada dalam tahap pertumbuhan fisik dan perkembangan
baik secara mental, emosional, sosial maupun religius. Pada perkembangan
seperti ini kaum muda berada dalam disposisi yang tidak menentu, terutama dalam
menemukan identitas keyakinan mereka yang sesungguhnya. Terlebih lagi dengan
hadirnya “globalisasi,” kaum muda seringkali merasa diombang-ambingkan oleh
situasi perkembangan globalisasi itu sendiri yang semakin hari semakin berubah
dan menantang mereka.
Pemerintah melalui
Kementerian Agama dalam hal ini Dirjen Bimas Buddha mempunyai tanggung jawab memberikan
pembinaan kepada muda-mudi Buddhis sebagai bagian dari pembangunan bangsa Indonesia.
II. TUJUAN
Tujuan kegiatan kegiatan ini adalah memberikan pembinaan kepada Muda-Mudi Buddhis
Kabupaten Lampung Timur dalam meningkatan keyakinan (Saddha) kepada Tiratana.
III. WAKTU PELAKSANAAN
Kegiatan
ini akan dilaksanakan pada hari Minggu, 31 Agustus 2014 di Vihara
Buddha Dipa, Gantimulyo 37b, Kecamatan Pekalongan, Kabupaten Lampung Timur.
DOKUMENTASI
PEMBINAAN MUDA-MUDI BUDDHIS KABUPATEN LAMPUNG TIMUR
TAHUN ANGGARRAN 2014
![]() |
| Add caption |
![]() |
| Kepala Kantor Kementerian Agama diwakili Ka. Sub Bagian Tata Usaha Kantor Kementerian Agama Kabupaten lampung Timur |
Jumat, 21 Desember 2012
KEMARAHAN
Kebanyakan dari kita tentu pernah marah. Namun, pernahkah
anda berpikir bahwa sebenarnya setiap hari (kebanyakan) manusia hidup ini pasti
pernah marah? Tiada hari tanpa marah.
Benarkah? Mari kita cermati bersama.
Di dalam kitab Tipitaka Mahanidessa Khuddaka Nikaya 29/348,
dijelaskan bahwa kemarahan terdiri dari beberapa tingkat. Kemarahan yang:
- Hanya membuat pikiran keruh, tapi belum sampai membuat muka cemberut.
- Membuat muka cemberut, tapi belum membuat badan gemetar.
- Membuat badan gemetar tapi, belum membuat mulut mengeluarkan cacian dan umpatan.
- Membuat mulut mengeluarkan cacian (ucapan kasar), tapi belum menengok kesana kemari (untuk mencari alat pemukul/senjata).
- Membuat kepala menengok kesana kemari, tapi belum mengambil alat pemukul/senjata.
- Telah mengambil senjata, tapi belum mempergunakannya, hanya mengancam.
- Telah mengancam, tapi belum memukul orang lain.
- Telah memukul, tapi belum melukai orang lain.
- Telah melukai orang lain, tapi belum membuat patah tulang.
- Telah membuat patah tulang orang lain, tapi belum terlepas dari tubuh.
- Telah membuat anggota badan orang lain terlepas dari tubuh, tapi belum sampai mati.
- Telah membunuh orang lain, tapi belum membunuh diri sendiri.
- Maka, bila ia telah membunuh dirinya sendiri, berarti kemarahannya telah mencapai puncak dan membuat pikirannya gelap sama sekali.
Jadi, yang dikatakan marah bukan hanya bila seseorang telah
menunjukkan tanda-tanda nyata kemarahan. Misalnya, mukanya merah padam dengan
mata yang merah bagaikan bara api, menghardik dengan kata-kata kasar dan kotor
karena telah lepas kontrol. Tapi, juga bila seseorang telah kehilangan rasa
kesabaran dalam hati/pikiran. Misalnya, perut sudah lapar, tapi belum ada
kesempatan untuk makan, membuat pikiran tak sabar menunggu waktu makan. Atau,
melihat (bertemu) sesuatu atau seseorang yang tak disukai, membuat muka
cemberut tak lagi berseri.
Singkat kata, yang dikatakan marah adalah, bila seseorang
telah kehilangan (sedikit saja) kesabaran, walau belum menunjukkan tanda-tanda
nyata.
Jadi, jelas bukan? Tiada hari tanpa marah.
Biasanya, seseorang harus memaksa diri agar gejala kemarahan
tak sampai meluap keluar bagaikan lahar dari gunung berapi. Masih bisa diredam
bila tingkat kemarahannya masih ringan. Namun, bila tingkat kemarahan itu telah
demikian besarnya, lahar itu pasti meluap keluar dalam berbagai bentuk
kekasaran dan kekerasan. Dari muka yang cemberut, jengkel, caci maki yang
kasar, sampai dengan membunuh orang lain bahkan membunuh diri sendiri.
Kemarahan muncul pasti ada penyebabnya. Ada beberapa hal
yang menyebabkan kita menjadi marah, seperti yang disebutkan dalam Aghatavatthu
Sutta (24/79):
- Marah, karena kita pernah dirugikan orang lain.
- Marah, karena kita sedang dirugikan orang lain.
- Marah, karena kita akan dirugikan orang lain.
- Marah, karena seseorang yang kita sayangi pernah dirugikan orang lain.
- Marah, karena seseorang yang kita sayangi sedang dirugikan orang lain.
- Marah, karena seseorang yang kita sayangi akan dirugikan orang lain.
- Marah, karena orang yang tidak kita sukai pernah dibantu orang lain.
- Marah, karena orang yang tidak kita sukai sedang dibantu orang lain.
- Marah, karena orang yang tidak kita sukai akan dibantu orang lain.
- Marah, yang seolah-olah tanpa sebab. Misalnya, pada batu kecil yang kita tendang dengan tidak sengaja saat sedang berjalan, juga marah pada diri sendiri.
Dalam Dhananjani Sutta (15/626), Sang Buddha menyatakan
ciri-ciri kemarahan, mempunyai akar bagaikan racun yang berbisa dan puncak
bagaikan madu yang manis. Dikatakan akarnya bagaikan racun berbisa karena bila
kemarahan mulai menguasai seseorang, pikiran akan kacau, gelisah dan panas.
Sehingga, ingin segera melampiaskan kemarahannya itu. Mengumpat dengan
kata-kata kasar, memukul ataupun merusak dan menghancurkan sesuatu atau orang
yang menjadi penyebab kemarahannya. Namun, bila kemarahannya telah
terlampiaskan ia akan merasa lega. Otaknya akan menjadi dingin (walau kadang
disertai penyesalan). Itulah sebabnya, dikatakan mempunyai puncak bagaikan madu
yang manis.
Panasnya kemarahan melebihi panasnya api. Kerugian harta dan
nyawa yang ditimbulkan oleh api kemarahan, akan berlipat ganda lebih banyak
dari kerugian harta dan nyawa yang disebabkan oleh api biasa.
Coba anda bayangkan. Dalam dunia yang berpenduduk
bermiliar-miliar orang ini, dalam sehari, ada berapa kali api kemarahan
berkobar. Yang berskala kecil maupun yang berskala besar. Perselisihan dan
pertengkaran antara suami istri maupun antar anak dalam keluarga. Perselisihan
dan silang pendapat dalam masyarakat dan organisasi.
Bahkan, organisasi sosial keagamaan yang mengaku diri
sebagai kumpulan orang-orang bajik dan bijak pun tak terbebas dari silang
pendapat yang berakhir dengan perpecahan. Mereka saling mengaku paling bajik
dan paling bijak dari yang lain tanpa peduli bahwa agama adalah sarana menuju pada
kebaikan dan perdamaian. Sengaja ataupun tak sengaja mereka telah mengingkari
dan melawan agamanya sendiri.
Api kemarahan berkobar-kobar memenuhi dunia di belahan
manapun, berupa peperangan besar maupun kecil yang telah menelan korban tak
ternilai lagi jumlahnya. Korban berupa harta benda maupun nyawa manusia dan
mahkluk lainnya.
Peperangan boleh saja padam dan berakhir. Namun, sebenarnya
‘api’ itu tidak benar-benar padam. Ia akan tersimpan dengan baik di dalam
hati/pikiran sebagai api dendam yang suatu saat nanti pasti berkobar kembali.
Api kemarahan tidak menimbulkan cahaya terang seperti api
biasa. Sebaliknya, ia akan membuat semakin gelap dan kelamnya pikiran. Tidak
lagi bisa melihat sinar kebajikan. Tidak lagi bisa melihat dan menyadari harga
diri dan kehormatan diri sendiri maupun orang lain. Kemarahan bisa membuat
seseorang berbuat kejahatan yang biasanya tak bisa dilakukan oleh orang biasa.
Ia bisa membunuh orang tua sendiri maupun membunuh seorang Arahat. Bisa pula
membunuh diri sendiri.
Penyakit marah ini menghinggapi manusia dalam macam-macam
karakter.
Ada orang pemarah, suka ngomel. Mudah marah hanya karena
alasan yang kecil, tapi mudah pula reda. Mudah tersinggung, tapi mudah pula
memaafkan. Bagaikan jejak kaki di atas tanah berdebu. Mudah hilang karena
terpaan angin atau siraman air hujan.
Ada pula orang pemarah, tak mudah melupakan persoalan.
Persoalan kecil yang sebenarnya layak untuk dimaafkan, namun dia sulit untuk
memaafkannya. Selalu mengingat kesalahan orang lain. Mudah mengungkit persoalan
yang seharusnya telah terlupakan. Bagaikan goresan di permukaan batu. Tak mudah
hilang kena terpaan angin maupun kikisan air yang mengalir.
Ada pula orang pemarah besar. Bila ada seseorang yang
membuatnya tersinggung, walau tak langsung pada dirinya, kemarahannya langsung
meledak berkobar-kobar. Ingin segera melampiaskan kemarahannya itu, hingga
ingin menghancurkan ‘lawannya’. Bila belum ada kesempatan untuk itu, ia akan
mendendam berkepanjangan. Kecurigaan terhadap ‘lawannya’, selalu mengganggunya.
Selalu dihantui perasaan takut dikalahkan, walau si ‘lawan’ tak berniat untuk
itu. Ia terus dibakar oleh api dendam. Jangan harap mendapatkan maaf dari orang
jenis ini.
Bila anda tergolong sebagai orang-orang yang
telah disebutkan di atas apalagi jenis yang terakhir, sebaiknya anda segera
mencari cara dan usaha mengatasi penyakit anda. Kalaupun tak berhasil
membasminya, mengurangipun lumayan lah! Kalau tidak, bisa saja anda akan
menghalalkan segala cara untuk malampiaskan kemarahan anda terhadap ‘lawan’
anda. Bisa menjadi provokator, pemfitnah yang meresahkan masyarakat. Menjadi
perusuh dan sampah masyarakat.
Tuntunan Meditasi Cinta Kasih (Metta Bhavana)
Meditasi
ini dapat dilakukan bersama-sama dalam suatu kelompok dengan salah seorang di
antaranya membacakan instruksi dengan perlahan dan suara yang halus. Tanda
titik titik pada akhir paragraf menunjukkan suatu masa hening sebelum masuk ke
instruksi berikutnya. Disarankan meditasi ini dilakukan selama kurang lebih
satu setengah jam.
Meditasi ini adalah meditasi cinta-kasih. Meditasi dilakukan dengan menggunakan teknik visualisasi yang sederhana dengan menggunakan pikiran kita yang biasa kita gunakan untuk berpikir. Sebagai contoh, jika saya menyarankan untuk membayangkan sebuah bunga, kita akan dapat melakukannya dengan mudah. Tidak peduli apakah bunga itu adalah bunga mawar atau bunga teratai, atau apapun warnanya itu, atau bahkan bagaimanapun jelasnya objek itu tergambar di dalam batin anda sesuatu yang berproses dengan lancar itu sudah cukup.
Sekarang duduklah dengan tegak, perhatikan jika ada ketegangan pada wajah anda. Kendorkan ketegangan di sekitar mata, sekitar rahang dan mulut. Arahkan perhatian anda pada daerah sekitar hati/dada –- suatu daerah di tengah-tengah dada, di sekitar tulang dada dan sekitar tulang rusuk. Tarik napas dan rasakan napas. Rasakan seolah-olah anda bisa menarik napas dan mengeluarkan napas dari daerah di tengah-tengah dada anda itu. Pada saat anda menarik napas, katakan kepada diri anda: SEMOGA SAYA DALAM KONDISI YANG BAIK –-mengharapkan diri sendiri sehat sejahtera, biarkan muncul dengan alami suatu perasaan simpati yang halus terhadap diri anda. Biarkan masa lalu terjadi, lepaskan ia; dan pada saat ini, pusatkan saja perhatian anda pada napas, pada hati/dada, serta pada pikiran simpati yang muncul, dengan alami dan seimbang. Tarik napas dan katakan pada diri anda sendiri: SEMOGA ORANG LAIN JUGA DALAM KONDISI YANG BAIK. Secara alami kembangkan irama ini –- menarik napas: SEMOGA SAYA DALAM KONDISI YANG BAIK, mengeluarkan napas: SEMOGA ORANG LAIN DALAM KONDISI YANG BAIK. … … Jika pikiran berkelana, maka dengan halus, wajar dan penuh kesabaran, tarik kembali perhatian anda. Ada suatu pergerakan yang lembut, kembali pada daerah sekitar dada, pada napas, pada perasaan simpati -– tarik napas: SEMOGA SAYA DALAM KONDISI YANG BAIK, keluarkan napas: SEMOGA ORANG LAIN DALAM KONDISI YANG BAIK.
Meditasi ini adalah meditasi cinta-kasih. Meditasi dilakukan dengan menggunakan teknik visualisasi yang sederhana dengan menggunakan pikiran kita yang biasa kita gunakan untuk berpikir. Sebagai contoh, jika saya menyarankan untuk membayangkan sebuah bunga, kita akan dapat melakukannya dengan mudah. Tidak peduli apakah bunga itu adalah bunga mawar atau bunga teratai, atau apapun warnanya itu, atau bahkan bagaimanapun jelasnya objek itu tergambar di dalam batin anda sesuatu yang berproses dengan lancar itu sudah cukup.
Sekarang duduklah dengan tegak, perhatikan jika ada ketegangan pada wajah anda. Kendorkan ketegangan di sekitar mata, sekitar rahang dan mulut. Arahkan perhatian anda pada daerah sekitar hati/dada –- suatu daerah di tengah-tengah dada, di sekitar tulang dada dan sekitar tulang rusuk. Tarik napas dan rasakan napas. Rasakan seolah-olah anda bisa menarik napas dan mengeluarkan napas dari daerah di tengah-tengah dada anda itu. Pada saat anda menarik napas, katakan kepada diri anda: SEMOGA SAYA DALAM KONDISI YANG BAIK –-mengharapkan diri sendiri sehat sejahtera, biarkan muncul dengan alami suatu perasaan simpati yang halus terhadap diri anda. Biarkan masa lalu terjadi, lepaskan ia; dan pada saat ini, pusatkan saja perhatian anda pada napas, pada hati/dada, serta pada pikiran simpati yang muncul, dengan alami dan seimbang. Tarik napas dan katakan pada diri anda sendiri: SEMOGA ORANG LAIN JUGA DALAM KONDISI YANG BAIK. Secara alami kembangkan irama ini –- menarik napas: SEMOGA SAYA DALAM KONDISI YANG BAIK, mengeluarkan napas: SEMOGA ORANG LAIN DALAM KONDISI YANG BAIK. … … Jika pikiran berkelana, maka dengan halus, wajar dan penuh kesabaran, tarik kembali perhatian anda. Ada suatu pergerakan yang lembut, kembali pada daerah sekitar dada, pada napas, pada perasaan simpati -– tarik napas: SEMOGA SAYA DALAM KONDISI YANG BAIK, keluarkan napas: SEMOGA ORANG LAIN DALAM KONDISI YANG BAIK.
Apa
yang kita lakukan adalah mencoba menyelaraskan diri kita dengan energi
cinta-kasih dan kasih-sayang di alam semesta. Membuka diri dan menyerap energi
tersebut, membiarkannya masuk ke dalam diri kita, menyegarkan diri kita,
melalui napas dan kekuatan pikiran sebagai media aliran energi tersebut. Tarik
napas: SEMOGA SAYA DALAM KONDISI YANG BAIK. Kemudian salurkan energi itu kepada
setiap orang: SEMOGA ORANG LAIN DALAM KONDISI YANG BAIK. … … Pertahankan
ketenangan dan kehalusan napas anda, biarkan energi napas menyegarkan diri
kita; tarik napas ke daerah sekitar dada, keluarkan napas dari daerah sekitar
dada.
Membuka
diri terhadap energi cinta kasih dari alam semesta. Tarik napas, biarkan diri
anda menjadi lebih peka dan lebih banyak menyerap energi tersebut. Keluarkan
napas, hati anda menjadi lebih terbuka dan lebih luas, pancarkan keluar: SEMOGA
ORANG LAIN SELALU DALAM KONDISI YANG BAIK. … … Dan pada saat kita telah siap…
tarik napas yang dalam dan halus ke daerah sekitar dada, biarkan perasaan cinta
kasih dan energi napas memenuhi diri kita. Tahan sebentar dengan alami, dengan
nyaman. Biarkan perasaan cinta kasih masuk semakin dalam dan menguatkan
perasaan nyaman tersebut. Biarkan ia memenuhi seluruh tubuh kita, meresap ke
dalam tubuh. Keluarkan napas, dengan perlahan dan halus, dari daerah sekitar
dada: SEMOGA ORANG LAIN DALAM KONDISI YANG BAIK. Lakukan itu beberapa kali –-
napas masuk yang dalam, tahan sebentar dan keluarkan. … …
Sekarang,
kita mulai dengan visualisasi dan bekerja lebih banyak pada napas-keluar. Terus
menjaga napas masuk anda seperti sebelumnya, napas masuk ke dalam daerah
sekitar dada dengan pikiran: SEMOGA SAYA DALAM KONDISI YANG BAIK. Untuk napas
keluar, mula-mula bayangkan dalam pikiran anda sosok ayah dan ibu kita – tidak
peduli di mana pun mereka berada, dekat atau jauh, masih hidup atau pun sudah
meninggal. Bayangkan kedua-duanya sekaligus atau satu per satu -- tergantung
mana yang paling mudah dilakukan. Bayangkan mereka berada beberapa meter di
depan kita, dan pada saat kita mengeluarkan napas, arahkan pikiran-pikiran
simpati dan penerimaan kita terhadap mereka. Jadi, tarik napas dengan pikiran:
SEMOGA SAYA DALAM KONDISI YANG BAIK...dan pada saat mengeluarkan napas, dengan
membayangkan sosok ayah dan ibu kita: SEMOGA MEREKA DALAM KONDISI YANG BAIK. …
…
Berikutnya:
bawa ke dalam pikiran kita, guru-guru spiritual kita, yakni mereka yang telah
menolong kita, membimbing kita, mendorong kita dan memberikan petunjuk kepada
kita dalam hidup kita. Bersama napas-keluar, dengan sikap perasaan berterima
kasih, pikirkan: SEMOGA MEREKA DALAM KONDISI YANG BAIK. … … Bawa ke dalam
pikiran anda sekarang, keluarga kita; suami/istri kita, anak-anak, kakak dan
adik kita, bisa sekaligus dalam satu kelompok atau satu per satu. Bersama
napas-keluar, dengan perasaan kasih sayang, pikirkan: SEMOGA MEREKA DALAM
KONDISI YANG BAIK. … …
Sekarang
bawa ke dalam pikiran anda, teman terdekat kita atau teman-teman yang lain,
yang kita rasakan akan mendapatkan manfaat dari pikiran-pikiran simpati kita.
Bersama napas-keluar, bawa mereka ke dalam pikiran dan berharap semoga mereka
dalam keadaan yang baik; suatu rengkuhan yang lembut, suatu sikap penuh kasih
sayang. .....
Tarik napas ke daerah sekitar dada: SEMOGA SAYA DALAM KONDISI YANG BAIK. Keluarkan napas dari daerah sekitar dada: SEMOGA MEREKA DALAM KONDISI YANG BAIK. Bawa ke dalam pikiran anda sekarang, mereka yang berlatih bersama-sama kita, mereka berada di sekitar kita; arahkan pikiran kita keluar, melingkupi mereka semua: SEMOGA MEREKA SEMUA DALAM KONDISI YANG BAIK DAN DAMAI. … …
Sekarang
bawa ke dalam pikiran, bentuk Bumi kita seperti kita melihatnya dari luar
angkasa. Arahkan pada objek yang penuh warna-warni tersebut, pikiran-pikiran
kita: SEMOGA SEMUA MAKHLUK DALAM KONDISI YANG BAIK. Keluarkan napas: SEMOGA
SEMUA MAKHLUK DALAM KONDISI YANG BAIK. … …
Dan
sekarang bawa ke dalam pikiran kita, suatu bentuk dari kekosongan yang luas dan
tak terbatas. Arahkan pikiran kita ke ruang yang tak terbatas itu: SEMOGA SEMUA
MAKHLUK DALAM KONDISI YANG BAIK. Biarkan pikiran anda terbuka luas; biarkan
hati anda terbuka seluas-luasnya. Tiada lagi batasan antara tubuh anda dengan
alam semesta –- tiada batasan – luas – menembus ruang dan waktu. … …
Sekarang
dengan hati-hati, dengan sedikit lebih memfokus, bawa kembali perhatian kita ke
arah daerah di sekitar dada, suatu titik di tengah-tengah dada kita. Tarik
napas dengan halus dan dalam serta munculkan pikiran: SEMOGA SAYA DALAM KONDISI
YANG BAIK. Tahan sebentar... biarkan pikiran, sebagai perasaan yang simpati
tersebut, menyebar ke seluruh tubuh, memberikan energi dan menyegarkan kita.
Kemudian dengan perlahan dan halus, keluarkan napas melalui daerah sekitar
dada. Lakukan hal yang sama satu atau dua kali – tarik napas yang dalam, tahan
sebentar dan keluarkan. … …
Sekarang
bawa ke dalam pikiran, seseorang yang pernah anda sakiti, baik secara disengaja
ataupun tidak, yang masih hidup maupun yang sudah meninggal... dan dengan
menyebut nama orang itu, katakan: MAAFKANLAH SAYA... Ingat kembali mereka yang
pernah anda sakiti... sebut nama mereka dan katakan: MAAFKANLAH SAYA
Berikan
perhatian yang dalam pada daerah sekitar dada. Biarkan ia tetap terbuka... dan
sekarang bawa ke dalam pikiran anda, seseorang yang pernah menyakiti anda.
Sebut nama orang itu dan katakan: SAYA MEMAAFKAN KAMU... Bawa ke dalam pikiran
seseorang yang menyakiti anda, sebut nama orang itu dan katakan: SAYA MEMAAFKAN
KAMU
Sekarang
dengan menyebut nama kita sendiri, katakan: SAYA MEMAAFKAN KAMU... Dengan
menyebut nama kita sendiri, katakan: SAYA MEMAAFKAN KAMU... dan... KAMU SAYA
MAAFKAN... KAMU SAYA MAAFKAN
Menyatulah
dengan perasaan-perasaan kasih sayang itu. Bawa perasaan-perasaan itu ke dalam
hati anda; rangkul mereka dengan lembut... Sekarang dengan hati-hati,
kembalilah ke napas –- energi napas masuk ke dalam daerah sekitar dada: SEMOGA
SAYA DALAM KONDISI YANG BAIK. Resapi dan penuhi diri anda dengan perasaan
tersebut. Kemudian keluarkan napas melalui daerah sekitar dada: SEMOGA ORANG
LAIN JUGA DALAM KONDISI YANG BAIK.
Begitu sederhana –- menarik napas, menyatu dengan energi. Mengeluarkan napas, mendoakan agar semua orang selalu dalam kondisi yang baik. Mengeluarkan napas untuk semua orang. ...
Begitu sederhana –- menarik napas, menyatu dengan energi. Mengeluarkan napas, mendoakan agar semua orang selalu dalam kondisi yang baik. Mengeluarkan napas untuk semua orang. ...
Langganan:
Postingan (Atom)










































