Minggu, 15 Februari 2015

PEMBINAAN MUDA-MUDI BUDDHIS KABUPATEN LAMPUNG TIMUR 2014


KEGIATAN PEMBINAAN MUDA-MUDI BUDDHIS
TAHUN 2014
  
I.         PENDAHULUAN

Undang–undang Nomor 40 Tahun 2009 Tentang Kepemudaan mengamanatkan bahwa muda-mudi yang selanjutnya disebut Pemuda wajib mendapatkan pembinaan dan diberdayakan. Pada pasal 24 ayat 1 dan 2 dijelaskan bahwa pemberdayaan pemuda dilaksanakan secara terencana, sistematis, dan berkelanjutan untuk meningkatkan potensi dan kualitas jasmani, mental spiritual, pengetahuan, serta keterampilan diri dan organisasi menuju kemandirian pemuda. Pemberdayaan sebagaimana dimaksud difasilitasi oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat, dan organisasi kepemudaan.
Muda-mudi Buddhis sebagai bagian dari pemuda harapan bangsa adalah mereka yang berada dalam tahap pertumbuhan fisik dan perkembangan baik secara mental, emosional, sosial maupun religius. Pada perkembangan seperti ini kaum muda berada dalam disposisi yang tidak menentu, terutama dalam menemukan identitas keyakinan mereka yang sesungguhnya. Terlebih lagi dengan hadirnya “globalisasi,” kaum muda seringkali merasa diombang-ambingkan oleh situasi perkembangan globalisasi itu sendiri yang semakin hari semakin berubah dan menantang mereka.
Pemerintah melalui Kementerian Agama dalam hal ini Dirjen Bimas Buddha mempunyai tanggung jawab memberikan pembinaan kepada muda-mudi Buddhis sebagai bagian dari pembangunan bangsa Indonesia.

II.   TUJUAN
     
Tujuan  kegiatan kegiatan ini adalah memberikan pembinaan kepada Muda-Mudi Buddhis Kabupaten Lampung Timur dalam meningkatan keyakinan (Saddha) kepada Tiratana.
           
III. WAKTU PELAKSANAAN
Kegiatan ini akan dilaksanakan pada hari Minggu, 31  Agustus 2014 di Vihara Buddha Dipa, Gantimulyo 37b, Kecamatan Pekalongan, Kabupaten Lampung Timur.


DOKUMENTASI
PEMBINAAN MUDA-MUDI BUDDHIS KABUPATEN LAMPUNG TIMUR
TAHUN ANGGARRAN 2014




Add caption



Kepala Kantor Kementerian Agama diwakili Ka. Sub Bagian Tata Usaha Kantor Kementerian Agama Kabupaten lampung Timur




















Jumat, 21 Desember 2012

KEMARAHAN



Kebanyakan dari kita tentu pernah marah. Namun, pernahkah anda berpikir bahwa sebenarnya setiap hari (kebanyakan) manusia hidup ini pasti pernah marah? Tiada hari tanpa marah.
Benarkah? Mari kita cermati bersama.
Di dalam kitab Tipitaka Mahanidessa Khuddaka Nikaya 29/348, dijelaskan bahwa kemarahan terdiri dari beberapa tingkat. Kemarahan yang:
  1. Hanya membuat pikiran keruh, tapi belum sampai membuat muka cemberut.
  2. Membuat muka cemberut, tapi belum membuat badan gemetar.
  3. Membuat badan gemetar tapi, belum membuat mulut mengeluarkan cacian dan umpatan.
  4. Membuat mulut mengeluarkan cacian (ucapan kasar), tapi belum menengok kesana kemari (untuk mencari alat pemukul/senjata).
  5. Membuat kepala menengok kesana kemari, tapi belum mengambil alat pemukul/senjata.
  6. Telah mengambil senjata, tapi belum mempergunakannya, hanya mengancam.
  7. Telah mengancam, tapi belum memukul orang lain.
  8. Telah memukul, tapi belum melukai orang lain.
  9. Telah melukai orang lain, tapi belum membuat patah tulang.
  10. Telah membuat patah tulang orang lain, tapi belum terlepas dari tubuh.
  11. Telah membuat anggota badan orang lain terlepas dari tubuh, tapi belum sampai mati.
  12. Telah membunuh orang lain, tapi belum membunuh diri sendiri.
  13. Maka, bila ia telah membunuh dirinya sendiri, berarti kemarahannya telah mencapai puncak dan membuat pikirannya gelap sama sekali.
Jadi, yang dikatakan marah bukan hanya bila seseorang telah menunjukkan tanda-tanda nyata kemarahan. Misalnya, mukanya merah padam dengan mata yang merah bagaikan bara api, menghardik dengan kata-kata kasar dan kotor karena telah lepas kontrol. Tapi, juga bila seseorang telah kehilangan rasa kesabaran dalam hati/pikiran. Misalnya, perut sudah lapar, tapi belum ada kesempatan untuk makan, membuat pikiran tak sabar menunggu waktu makan. Atau, melihat (bertemu) sesuatu atau seseorang yang tak disukai, membuat muka cemberut tak lagi berseri.
Singkat kata, yang dikatakan marah adalah, bila seseorang telah kehilangan (sedikit saja) kesabaran, walau belum menunjukkan tanda-tanda nyata.
Jadi, jelas bukan? Tiada hari tanpa marah.
Biasanya, seseorang harus memaksa diri agar gejala kemarahan tak sampai meluap keluar bagaikan lahar dari gunung berapi. Masih bisa diredam bila tingkat kemarahannya masih ringan. Namun, bila tingkat kemarahan itu telah demikian besarnya, lahar itu pasti meluap keluar dalam berbagai bentuk kekasaran dan kekerasan. Dari muka yang cemberut, jengkel, caci maki yang kasar, sampai dengan membunuh orang lain bahkan membunuh diri sendiri.
Kemarahan muncul pasti ada penyebabnya. Ada beberapa hal yang menyebabkan kita menjadi marah, seperti yang disebutkan dalam Aghatavatthu Sutta (24/79):
  1. Marah, karena kita pernah dirugikan orang lain.
  2. Marah, karena kita sedang dirugikan orang lain.
  3. Marah, karena kita akan dirugikan orang lain.
  4. Marah, karena seseorang yang kita sayangi pernah dirugikan orang lain.
  5. Marah, karena seseorang yang kita sayangi sedang dirugikan orang lain.
  6. Marah, karena seseorang yang kita sayangi akan dirugikan orang lain.
  7. Marah, karena orang yang tidak kita sukai pernah dibantu orang lain.
  8. Marah, karena orang yang tidak kita sukai sedang dibantu orang lain.
  9. Marah, karena orang yang tidak kita sukai akan dibantu orang lain.
  10. Marah, yang seolah-olah tanpa sebab. Misalnya, pada batu kecil yang kita tendang dengan tidak sengaja saat sedang berjalan, juga marah pada diri sendiri.
Dalam Dhananjani Sutta (15/626), Sang Buddha menyatakan ciri-ciri kemarahan, mempunyai akar bagaikan racun yang berbisa dan puncak bagaikan madu yang manis. Dikatakan akarnya bagaikan racun berbisa karena bila kemarahan mulai menguasai seseorang, pikiran akan kacau, gelisah dan panas. Sehingga, ingin segera melampiaskan kemarahannya itu. Mengumpat dengan kata-kata kasar, memukul ataupun merusak dan menghancurkan sesuatu atau orang yang menjadi penyebab kemarahannya. Namun, bila kemarahannya telah terlampiaskan ia akan merasa lega. Otaknya akan menjadi dingin (walau kadang disertai penyesalan). Itulah sebabnya, dikatakan mempunyai puncak bagaikan madu yang manis.
Panasnya kemarahan melebihi panasnya api. Kerugian harta dan nyawa yang ditimbulkan oleh api kemarahan, akan berlipat ganda lebih banyak dari kerugian harta dan nyawa yang disebabkan oleh api biasa.
Coba anda bayangkan. Dalam dunia yang berpenduduk bermiliar-miliar orang ini, dalam sehari, ada berapa kali api kemarahan berkobar. Yang berskala kecil maupun yang berskala besar. Perselisihan dan pertengkaran antara suami istri maupun antar anak dalam keluarga. Perselisihan dan silang pendapat dalam masyarakat dan organisasi.
Bahkan, organisasi sosial keagamaan yang mengaku diri sebagai kumpulan orang-orang bajik dan bijak pun tak terbebas dari silang pendapat yang berakhir dengan perpecahan. Mereka saling mengaku paling bajik dan paling bijak dari yang lain tanpa peduli bahwa agama adalah sarana menuju pada kebaikan dan perdamaian. Sengaja ataupun tak sengaja mereka telah mengingkari dan melawan agamanya sendiri.
Api kemarahan berkobar-kobar memenuhi dunia di belahan manapun, berupa peperangan besar maupun kecil yang telah menelan korban tak ternilai lagi jumlahnya. Korban berupa harta benda maupun nyawa manusia dan mahkluk lainnya.
Peperangan boleh saja padam dan berakhir. Namun, sebenarnya ‘api’ itu tidak benar-benar padam. Ia akan tersimpan dengan baik di dalam hati/pikiran sebagai api dendam yang suatu saat nanti pasti berkobar kembali.
Api kemarahan tidak menimbulkan cahaya terang seperti api biasa. Sebaliknya, ia akan membuat semakin gelap dan kelamnya pikiran. Tidak lagi bisa melihat sinar kebajikan. Tidak lagi bisa melihat dan menyadari harga diri dan kehormatan diri sendiri maupun orang lain. Kemarahan bisa membuat seseorang berbuat kejahatan yang biasanya tak bisa dilakukan oleh orang biasa. Ia bisa membunuh orang tua sendiri maupun membunuh seorang Arahat. Bisa pula membunuh diri sendiri.
Penyakit marah ini menghinggapi manusia dalam macam-macam karakter.
Ada orang pemarah, suka ngomel. Mudah marah hanya karena alasan yang kecil, tapi mudah pula reda. Mudah tersinggung, tapi mudah pula memaafkan. Bagaikan jejak kaki di atas tanah berdebu. Mudah hilang karena terpaan angin atau siraman air hujan.
Ada pula orang pemarah, tak mudah melupakan persoalan. Persoalan kecil yang sebenarnya layak untuk dimaafkan, namun dia sulit untuk memaafkannya. Selalu mengingat kesalahan orang lain. Mudah mengungkit persoalan yang seharusnya telah terlupakan. Bagaikan goresan di permukaan batu. Tak mudah hilang kena terpaan angin maupun kikisan air yang mengalir.
Ada pula orang pemarah besar. Bila ada seseorang yang membuatnya tersinggung, walau tak langsung pada dirinya, kemarahannya langsung meledak berkobar-kobar. Ingin segera melampiaskan kemarahannya itu, hingga ingin menghancurkan ‘lawannya’. Bila belum ada kesempatan untuk itu, ia akan mendendam berkepanjangan. Kecurigaan terhadap ‘lawannya’, selalu mengganggunya. Selalu dihantui perasaan takut dikalahkan, walau si ‘lawan’ tak berniat untuk itu. Ia terus dibakar oleh api dendam. Jangan harap mendapatkan maaf dari orang jenis ini.
Bila anda tergolong sebagai orang-orang yang telah disebutkan di atas apalagi jenis yang terakhir, sebaiknya anda segera mencari cara dan usaha mengatasi penyakit anda. Kalaupun tak berhasil membasminya, mengurangipun lumayan lah! Kalau tidak, bisa saja anda akan menghalalkan segala cara untuk malampiaskan kemarahan anda terhadap ‘lawan’ anda. Bisa menjadi provokator, pemfitnah yang meresahkan masyarakat. Menjadi perusuh dan sampah masyarakat.

Tuntunan Meditasi Cinta Kasih (Metta Bhavana)



Meditasi ini dapat dilakukan bersama-sama dalam suatu kelompok dengan salah seorang di antaranya membacakan instruksi dengan perlahan dan suara yang halus. Tanda titik titik pada akhir paragraf menunjukkan suatu masa hening sebelum masuk ke instruksi berikutnya. Disarankan meditasi ini dilakukan selama kurang lebih satu setengah jam.

Meditasi ini adalah meditasi cinta-kasih. Meditasi dilakukan dengan menggunakan teknik visualisasi yang sederhana dengan menggunakan pikiran kita yang biasa kita gunakan untuk berpikir. Sebagai contoh, jika saya menyarankan untuk membayangkan sebuah bunga, kita akan dapat melakukannya dengan mudah. Tidak peduli apakah bunga itu adalah bunga mawar atau bunga teratai, atau apapun warnanya itu, atau bahkan bagaimanapun jelasnya objek itu tergambar di dalam batin anda sesuatu yang berproses dengan lancar itu sudah cukup.

Sekarang duduklah dengan tegak, perhatikan jika ada ketegangan pada wajah anda. Kendorkan ketegangan di sekitar mata, sekitar rahang dan mulut. Arahkan perhatian anda pada daerah sekitar hati/dada –- suatu daerah di tengah-tengah dada, di sekitar tulang dada dan sekitar tulang rusuk. Tarik napas dan rasakan napas. Rasakan seolah-olah anda bisa menarik napas dan mengeluarkan napas dari daerah di tengah-tengah dada anda itu. Pada saat anda menarik napas, katakan kepada diri anda: SEMOGA SAYA DALAM KONDISI YANG BAIK –-mengharapkan diri sendiri sehat sejahtera, biarkan muncul dengan alami suatu perasaan simpati yang halus terhadap diri anda. Biarkan masa lalu terjadi, lepaskan ia; dan pada saat ini, pusatkan saja perhatian anda pada napas, pada hati/dada, serta pada pikiran simpati yang muncul, dengan alami dan seimbang. Tarik napas dan katakan pada diri anda sendiri: SEMOGA ORANG LAIN JUGA DALAM KONDISI YANG BAIK. Secara alami kembangkan irama ini –- menarik napas: SEMOGA SAYA DALAM KONDISI YANG BAIK, mengeluarkan napas: SEMOGA ORANG LAIN DALAM KONDISI YANG BAIK. … … Jika pikiran berkelana, maka dengan halus, wajar dan penuh kesabaran, tarik kembali perhatian anda. Ada suatu pergerakan yang lembut, kembali pada daerah sekitar dada, pada napas, pada perasaan simpati -– tarik napas: SEMOGA SAYA DALAM KONDISI YANG BAIK, keluarkan napas: SEMOGA ORANG LAIN DALAM KONDISI YANG BAIK.

Apa yang kita lakukan adalah mencoba menyelaraskan diri kita dengan energi cinta-kasih dan kasih-sayang di alam semesta. Membuka diri dan menyerap energi tersebut, membiarkannya masuk ke dalam diri kita, menyegarkan diri kita, melalui napas dan kekuatan pikiran sebagai media aliran energi tersebut. Tarik napas: SEMOGA SAYA DALAM KONDISI YANG BAIK. Kemudian salurkan energi itu kepada setiap orang: SEMOGA ORANG LAIN DALAM KONDISI YANG BAIK. … … Pertahankan ketenangan dan kehalusan napas anda, biarkan energi napas menyegarkan diri kita; tarik napas ke daerah sekitar dada, keluarkan napas dari daerah sekitar dada.

Membuka diri terhadap energi cinta kasih dari alam semesta. Tarik napas, biarkan diri anda menjadi lebih peka dan lebih banyak menyerap energi tersebut. Keluarkan napas, hati anda menjadi lebih terbuka dan lebih luas, pancarkan keluar: SEMOGA ORANG LAIN SELALU DALAM KONDISI YANG BAIK. … … Dan pada saat kita telah siap… tarik napas yang dalam dan halus ke daerah sekitar dada, biarkan perasaan cinta kasih dan energi napas memenuhi diri kita. Tahan sebentar dengan alami, dengan nyaman. Biarkan perasaan cinta kasih masuk semakin dalam dan menguatkan perasaan nyaman tersebut. Biarkan ia memenuhi seluruh tubuh kita, meresap ke dalam tubuh. Keluarkan napas, dengan perlahan dan halus, dari daerah sekitar dada: SEMOGA ORANG LAIN DALAM KONDISI YANG BAIK. Lakukan itu beberapa kali –- napas masuk yang dalam, tahan sebentar dan keluarkan. … …

Sekarang, kita mulai dengan visualisasi dan bekerja lebih banyak pada napas-keluar. Terus menjaga napas masuk anda seperti sebelumnya, napas masuk ke dalam daerah sekitar dada dengan pikiran: SEMOGA SAYA DALAM KONDISI YANG BAIK. Untuk napas keluar, mula-mula bayangkan dalam pikiran anda sosok ayah dan ibu kita – tidak peduli di mana pun mereka berada, dekat atau jauh, masih hidup atau pun sudah meninggal. Bayangkan kedua-duanya sekaligus atau satu per satu -- tergantung mana yang paling mudah dilakukan. Bayangkan mereka berada beberapa meter di depan kita, dan pada saat kita mengeluarkan napas, arahkan pikiran-pikiran simpati dan penerimaan kita terhadap mereka. Jadi, tarik napas dengan pikiran: SEMOGA SAYA DALAM KONDISI YANG BAIK...dan pada saat mengeluarkan napas, dengan membayangkan sosok ayah dan ibu kita: SEMOGA MEREKA DALAM KONDISI YANG BAIK. … …

Berikutnya: bawa ke dalam pikiran kita, guru-guru spiritual kita, yakni mereka yang telah menolong kita, membimbing kita, mendorong kita dan memberikan petunjuk kepada kita dalam hidup kita. Bersama napas-keluar, dengan sikap perasaan berterima kasih, pikirkan: SEMOGA MEREKA DALAM KONDISI YANG BAIK. … … Bawa ke dalam pikiran anda sekarang, keluarga kita; suami/istri kita, anak-anak, kakak dan adik kita, bisa sekaligus dalam satu kelompok atau satu per satu. Bersama napas-keluar, dengan perasaan kasih sayang, pikirkan: SEMOGA MEREKA DALAM KONDISI YANG BAIK. … …
Sekarang bawa ke dalam pikiran anda, teman terdekat kita atau teman-teman yang lain, yang kita rasakan akan mendapatkan manfaat dari pikiran-pikiran simpati kita. Bersama napas-keluar, bawa mereka ke dalam pikiran dan berharap semoga mereka dalam keadaan yang baik; suatu rengkuhan yang lembut, suatu sikap penuh kasih sayang. .....

Tarik napas ke daerah sekitar dada: SEMOGA SAYA DALAM KONDISI YANG BAIK. Keluarkan napas dari daerah sekitar dada: SEMOGA MEREKA DALAM KONDISI YANG BAIK. Bawa ke dalam pikiran anda sekarang, mereka yang berlatih bersama-sama kita, mereka berada di sekitar kita; arahkan pikiran kita keluar, melingkupi mereka semua: SEMOGA MEREKA SEMUA DALAM KONDISI YANG BAIK DAN DAMAI. … …
Sekarang bawa ke dalam pikiran, bentuk Bumi kita seperti kita melihatnya dari luar angkasa. Arahkan pada objek yang penuh warna-warni tersebut, pikiran-pikiran kita: SEMOGA SEMUA MAKHLUK DALAM KONDISI YANG BAIK. Keluarkan napas: SEMOGA SEMUA MAKHLUK DALAM KONDISI YANG BAIK. … …
Dan sekarang bawa ke dalam pikiran kita, suatu bentuk dari kekosongan yang luas dan tak terbatas. Arahkan pikiran kita ke ruang yang tak terbatas itu: SEMOGA SEMUA MAKHLUK DALAM KONDISI YANG BAIK. Biarkan pikiran anda terbuka luas; biarkan hati anda terbuka seluas-luasnya. Tiada lagi batasan antara tubuh anda dengan alam semesta –- tiada batasan – luas – menembus ruang dan waktu. … …

Sekarang dengan hati-hati, dengan sedikit lebih memfokus, bawa kembali perhatian kita ke arah daerah di sekitar dada, suatu titik di tengah-tengah dada kita. Tarik napas dengan halus dan dalam serta munculkan pikiran: SEMOGA SAYA DALAM KONDISI YANG BAIK. Tahan sebentar... biarkan pikiran, sebagai perasaan yang simpati tersebut, menyebar ke seluruh tubuh, memberikan energi dan menyegarkan kita. Kemudian dengan perlahan dan halus, keluarkan napas melalui daerah sekitar dada. Lakukan hal yang sama satu atau dua kali – tarik napas yang dalam, tahan sebentar dan keluarkan. … …

Sekarang bawa ke dalam pikiran, seseorang yang pernah anda sakiti, baik secara disengaja ataupun tidak, yang masih hidup maupun yang sudah meninggal... dan dengan menyebut nama orang itu, katakan: MAAFKANLAH SAYA... Ingat kembali mereka yang pernah anda sakiti... sebut nama mereka dan katakan: MAAFKANLAH SAYA
Berikan perhatian yang dalam pada daerah sekitar dada. Biarkan ia tetap terbuka... dan sekarang bawa ke dalam pikiran anda, seseorang yang pernah menyakiti anda. Sebut nama orang itu dan katakan: SAYA MEMAAFKAN KAMU... Bawa ke dalam pikiran seseorang yang menyakiti anda, sebut nama orang itu dan katakan: SAYA MEMAAFKAN KAMU
Sekarang dengan menyebut nama kita sendiri, katakan: SAYA MEMAAFKAN KAMU... Dengan menyebut nama kita sendiri, katakan: SAYA MEMAAFKAN KAMU... dan... KAMU SAYA MAAFKAN... KAMU SAYA MAAFKAN

Menyatulah dengan perasaan-perasaan kasih sayang itu. Bawa perasaan-perasaan itu ke dalam hati anda; rangkul mereka dengan lembut... Sekarang dengan hati-hati, kembalilah ke napas –- energi napas masuk ke dalam daerah sekitar dada: SEMOGA SAYA DALAM KONDISI YANG BAIK. Resapi dan penuhi diri anda dengan perasaan tersebut. Kemudian keluarkan napas melalui daerah sekitar dada: SEMOGA ORANG LAIN JUGA DALAM KONDISI YANG BAIK.

Begitu sederhana –- menarik napas, menyatu dengan energi. Mengeluarkan napas, mendoakan agar semua orang selalu dalam kondisi yang baik. Mengeluarkan napas untuk semua orang. ...