Jumat, 21 Desember 2012

KEMARAHAN



Kebanyakan dari kita tentu pernah marah. Namun, pernahkah anda berpikir bahwa sebenarnya setiap hari (kebanyakan) manusia hidup ini pasti pernah marah? Tiada hari tanpa marah.
Benarkah? Mari kita cermati bersama.
Di dalam kitab Tipitaka Mahanidessa Khuddaka Nikaya 29/348, dijelaskan bahwa kemarahan terdiri dari beberapa tingkat. Kemarahan yang:
  1. Hanya membuat pikiran keruh, tapi belum sampai membuat muka cemberut.
  2. Membuat muka cemberut, tapi belum membuat badan gemetar.
  3. Membuat badan gemetar tapi, belum membuat mulut mengeluarkan cacian dan umpatan.
  4. Membuat mulut mengeluarkan cacian (ucapan kasar), tapi belum menengok kesana kemari (untuk mencari alat pemukul/senjata).
  5. Membuat kepala menengok kesana kemari, tapi belum mengambil alat pemukul/senjata.
  6. Telah mengambil senjata, tapi belum mempergunakannya, hanya mengancam.
  7. Telah mengancam, tapi belum memukul orang lain.
  8. Telah memukul, tapi belum melukai orang lain.
  9. Telah melukai orang lain, tapi belum membuat patah tulang.
  10. Telah membuat patah tulang orang lain, tapi belum terlepas dari tubuh.
  11. Telah membuat anggota badan orang lain terlepas dari tubuh, tapi belum sampai mati.
  12. Telah membunuh orang lain, tapi belum membunuh diri sendiri.
  13. Maka, bila ia telah membunuh dirinya sendiri, berarti kemarahannya telah mencapai puncak dan membuat pikirannya gelap sama sekali.
Jadi, yang dikatakan marah bukan hanya bila seseorang telah menunjukkan tanda-tanda nyata kemarahan. Misalnya, mukanya merah padam dengan mata yang merah bagaikan bara api, menghardik dengan kata-kata kasar dan kotor karena telah lepas kontrol. Tapi, juga bila seseorang telah kehilangan rasa kesabaran dalam hati/pikiran. Misalnya, perut sudah lapar, tapi belum ada kesempatan untuk makan, membuat pikiran tak sabar menunggu waktu makan. Atau, melihat (bertemu) sesuatu atau seseorang yang tak disukai, membuat muka cemberut tak lagi berseri.
Singkat kata, yang dikatakan marah adalah, bila seseorang telah kehilangan (sedikit saja) kesabaran, walau belum menunjukkan tanda-tanda nyata.
Jadi, jelas bukan? Tiada hari tanpa marah.
Biasanya, seseorang harus memaksa diri agar gejala kemarahan tak sampai meluap keluar bagaikan lahar dari gunung berapi. Masih bisa diredam bila tingkat kemarahannya masih ringan. Namun, bila tingkat kemarahan itu telah demikian besarnya, lahar itu pasti meluap keluar dalam berbagai bentuk kekasaran dan kekerasan. Dari muka yang cemberut, jengkel, caci maki yang kasar, sampai dengan membunuh orang lain bahkan membunuh diri sendiri.
Kemarahan muncul pasti ada penyebabnya. Ada beberapa hal yang menyebabkan kita menjadi marah, seperti yang disebutkan dalam Aghatavatthu Sutta (24/79):
  1. Marah, karena kita pernah dirugikan orang lain.
  2. Marah, karena kita sedang dirugikan orang lain.
  3. Marah, karena kita akan dirugikan orang lain.
  4. Marah, karena seseorang yang kita sayangi pernah dirugikan orang lain.
  5. Marah, karena seseorang yang kita sayangi sedang dirugikan orang lain.
  6. Marah, karena seseorang yang kita sayangi akan dirugikan orang lain.
  7. Marah, karena orang yang tidak kita sukai pernah dibantu orang lain.
  8. Marah, karena orang yang tidak kita sukai sedang dibantu orang lain.
  9. Marah, karena orang yang tidak kita sukai akan dibantu orang lain.
  10. Marah, yang seolah-olah tanpa sebab. Misalnya, pada batu kecil yang kita tendang dengan tidak sengaja saat sedang berjalan, juga marah pada diri sendiri.
Dalam Dhananjani Sutta (15/626), Sang Buddha menyatakan ciri-ciri kemarahan, mempunyai akar bagaikan racun yang berbisa dan puncak bagaikan madu yang manis. Dikatakan akarnya bagaikan racun berbisa karena bila kemarahan mulai menguasai seseorang, pikiran akan kacau, gelisah dan panas. Sehingga, ingin segera melampiaskan kemarahannya itu. Mengumpat dengan kata-kata kasar, memukul ataupun merusak dan menghancurkan sesuatu atau orang yang menjadi penyebab kemarahannya. Namun, bila kemarahannya telah terlampiaskan ia akan merasa lega. Otaknya akan menjadi dingin (walau kadang disertai penyesalan). Itulah sebabnya, dikatakan mempunyai puncak bagaikan madu yang manis.
Panasnya kemarahan melebihi panasnya api. Kerugian harta dan nyawa yang ditimbulkan oleh api kemarahan, akan berlipat ganda lebih banyak dari kerugian harta dan nyawa yang disebabkan oleh api biasa.
Coba anda bayangkan. Dalam dunia yang berpenduduk bermiliar-miliar orang ini, dalam sehari, ada berapa kali api kemarahan berkobar. Yang berskala kecil maupun yang berskala besar. Perselisihan dan pertengkaran antara suami istri maupun antar anak dalam keluarga. Perselisihan dan silang pendapat dalam masyarakat dan organisasi.
Bahkan, organisasi sosial keagamaan yang mengaku diri sebagai kumpulan orang-orang bajik dan bijak pun tak terbebas dari silang pendapat yang berakhir dengan perpecahan. Mereka saling mengaku paling bajik dan paling bijak dari yang lain tanpa peduli bahwa agama adalah sarana menuju pada kebaikan dan perdamaian. Sengaja ataupun tak sengaja mereka telah mengingkari dan melawan agamanya sendiri.
Api kemarahan berkobar-kobar memenuhi dunia di belahan manapun, berupa peperangan besar maupun kecil yang telah menelan korban tak ternilai lagi jumlahnya. Korban berupa harta benda maupun nyawa manusia dan mahkluk lainnya.
Peperangan boleh saja padam dan berakhir. Namun, sebenarnya ‘api’ itu tidak benar-benar padam. Ia akan tersimpan dengan baik di dalam hati/pikiran sebagai api dendam yang suatu saat nanti pasti berkobar kembali.
Api kemarahan tidak menimbulkan cahaya terang seperti api biasa. Sebaliknya, ia akan membuat semakin gelap dan kelamnya pikiran. Tidak lagi bisa melihat sinar kebajikan. Tidak lagi bisa melihat dan menyadari harga diri dan kehormatan diri sendiri maupun orang lain. Kemarahan bisa membuat seseorang berbuat kejahatan yang biasanya tak bisa dilakukan oleh orang biasa. Ia bisa membunuh orang tua sendiri maupun membunuh seorang Arahat. Bisa pula membunuh diri sendiri.
Penyakit marah ini menghinggapi manusia dalam macam-macam karakter.
Ada orang pemarah, suka ngomel. Mudah marah hanya karena alasan yang kecil, tapi mudah pula reda. Mudah tersinggung, tapi mudah pula memaafkan. Bagaikan jejak kaki di atas tanah berdebu. Mudah hilang karena terpaan angin atau siraman air hujan.
Ada pula orang pemarah, tak mudah melupakan persoalan. Persoalan kecil yang sebenarnya layak untuk dimaafkan, namun dia sulit untuk memaafkannya. Selalu mengingat kesalahan orang lain. Mudah mengungkit persoalan yang seharusnya telah terlupakan. Bagaikan goresan di permukaan batu. Tak mudah hilang kena terpaan angin maupun kikisan air yang mengalir.
Ada pula orang pemarah besar. Bila ada seseorang yang membuatnya tersinggung, walau tak langsung pada dirinya, kemarahannya langsung meledak berkobar-kobar. Ingin segera melampiaskan kemarahannya itu, hingga ingin menghancurkan ‘lawannya’. Bila belum ada kesempatan untuk itu, ia akan mendendam berkepanjangan. Kecurigaan terhadap ‘lawannya’, selalu mengganggunya. Selalu dihantui perasaan takut dikalahkan, walau si ‘lawan’ tak berniat untuk itu. Ia terus dibakar oleh api dendam. Jangan harap mendapatkan maaf dari orang jenis ini.
Bila anda tergolong sebagai orang-orang yang telah disebutkan di atas apalagi jenis yang terakhir, sebaiknya anda segera mencari cara dan usaha mengatasi penyakit anda. Kalaupun tak berhasil membasminya, mengurangipun lumayan lah! Kalau tidak, bisa saja anda akan menghalalkan segala cara untuk malampiaskan kemarahan anda terhadap ‘lawan’ anda. Bisa menjadi provokator, pemfitnah yang meresahkan masyarakat. Menjadi perusuh dan sampah masyarakat.

Tuntunan Meditasi Cinta Kasih (Metta Bhavana)



Meditasi ini dapat dilakukan bersama-sama dalam suatu kelompok dengan salah seorang di antaranya membacakan instruksi dengan perlahan dan suara yang halus. Tanda titik titik pada akhir paragraf menunjukkan suatu masa hening sebelum masuk ke instruksi berikutnya. Disarankan meditasi ini dilakukan selama kurang lebih satu setengah jam.

Meditasi ini adalah meditasi cinta-kasih. Meditasi dilakukan dengan menggunakan teknik visualisasi yang sederhana dengan menggunakan pikiran kita yang biasa kita gunakan untuk berpikir. Sebagai contoh, jika saya menyarankan untuk membayangkan sebuah bunga, kita akan dapat melakukannya dengan mudah. Tidak peduli apakah bunga itu adalah bunga mawar atau bunga teratai, atau apapun warnanya itu, atau bahkan bagaimanapun jelasnya objek itu tergambar di dalam batin anda sesuatu yang berproses dengan lancar itu sudah cukup.

Sekarang duduklah dengan tegak, perhatikan jika ada ketegangan pada wajah anda. Kendorkan ketegangan di sekitar mata, sekitar rahang dan mulut. Arahkan perhatian anda pada daerah sekitar hati/dada –- suatu daerah di tengah-tengah dada, di sekitar tulang dada dan sekitar tulang rusuk. Tarik napas dan rasakan napas. Rasakan seolah-olah anda bisa menarik napas dan mengeluarkan napas dari daerah di tengah-tengah dada anda itu. Pada saat anda menarik napas, katakan kepada diri anda: SEMOGA SAYA DALAM KONDISI YANG BAIK –-mengharapkan diri sendiri sehat sejahtera, biarkan muncul dengan alami suatu perasaan simpati yang halus terhadap diri anda. Biarkan masa lalu terjadi, lepaskan ia; dan pada saat ini, pusatkan saja perhatian anda pada napas, pada hati/dada, serta pada pikiran simpati yang muncul, dengan alami dan seimbang. Tarik napas dan katakan pada diri anda sendiri: SEMOGA ORANG LAIN JUGA DALAM KONDISI YANG BAIK. Secara alami kembangkan irama ini –- menarik napas: SEMOGA SAYA DALAM KONDISI YANG BAIK, mengeluarkan napas: SEMOGA ORANG LAIN DALAM KONDISI YANG BAIK. … … Jika pikiran berkelana, maka dengan halus, wajar dan penuh kesabaran, tarik kembali perhatian anda. Ada suatu pergerakan yang lembut, kembali pada daerah sekitar dada, pada napas, pada perasaan simpati -– tarik napas: SEMOGA SAYA DALAM KONDISI YANG BAIK, keluarkan napas: SEMOGA ORANG LAIN DALAM KONDISI YANG BAIK.

Apa yang kita lakukan adalah mencoba menyelaraskan diri kita dengan energi cinta-kasih dan kasih-sayang di alam semesta. Membuka diri dan menyerap energi tersebut, membiarkannya masuk ke dalam diri kita, menyegarkan diri kita, melalui napas dan kekuatan pikiran sebagai media aliran energi tersebut. Tarik napas: SEMOGA SAYA DALAM KONDISI YANG BAIK. Kemudian salurkan energi itu kepada setiap orang: SEMOGA ORANG LAIN DALAM KONDISI YANG BAIK. … … Pertahankan ketenangan dan kehalusan napas anda, biarkan energi napas menyegarkan diri kita; tarik napas ke daerah sekitar dada, keluarkan napas dari daerah sekitar dada.

Membuka diri terhadap energi cinta kasih dari alam semesta. Tarik napas, biarkan diri anda menjadi lebih peka dan lebih banyak menyerap energi tersebut. Keluarkan napas, hati anda menjadi lebih terbuka dan lebih luas, pancarkan keluar: SEMOGA ORANG LAIN SELALU DALAM KONDISI YANG BAIK. … … Dan pada saat kita telah siap… tarik napas yang dalam dan halus ke daerah sekitar dada, biarkan perasaan cinta kasih dan energi napas memenuhi diri kita. Tahan sebentar dengan alami, dengan nyaman. Biarkan perasaan cinta kasih masuk semakin dalam dan menguatkan perasaan nyaman tersebut. Biarkan ia memenuhi seluruh tubuh kita, meresap ke dalam tubuh. Keluarkan napas, dengan perlahan dan halus, dari daerah sekitar dada: SEMOGA ORANG LAIN DALAM KONDISI YANG BAIK. Lakukan itu beberapa kali –- napas masuk yang dalam, tahan sebentar dan keluarkan. … …

Sekarang, kita mulai dengan visualisasi dan bekerja lebih banyak pada napas-keluar. Terus menjaga napas masuk anda seperti sebelumnya, napas masuk ke dalam daerah sekitar dada dengan pikiran: SEMOGA SAYA DALAM KONDISI YANG BAIK. Untuk napas keluar, mula-mula bayangkan dalam pikiran anda sosok ayah dan ibu kita – tidak peduli di mana pun mereka berada, dekat atau jauh, masih hidup atau pun sudah meninggal. Bayangkan kedua-duanya sekaligus atau satu per satu -- tergantung mana yang paling mudah dilakukan. Bayangkan mereka berada beberapa meter di depan kita, dan pada saat kita mengeluarkan napas, arahkan pikiran-pikiran simpati dan penerimaan kita terhadap mereka. Jadi, tarik napas dengan pikiran: SEMOGA SAYA DALAM KONDISI YANG BAIK...dan pada saat mengeluarkan napas, dengan membayangkan sosok ayah dan ibu kita: SEMOGA MEREKA DALAM KONDISI YANG BAIK. … …

Berikutnya: bawa ke dalam pikiran kita, guru-guru spiritual kita, yakni mereka yang telah menolong kita, membimbing kita, mendorong kita dan memberikan petunjuk kepada kita dalam hidup kita. Bersama napas-keluar, dengan sikap perasaan berterima kasih, pikirkan: SEMOGA MEREKA DALAM KONDISI YANG BAIK. … … Bawa ke dalam pikiran anda sekarang, keluarga kita; suami/istri kita, anak-anak, kakak dan adik kita, bisa sekaligus dalam satu kelompok atau satu per satu. Bersama napas-keluar, dengan perasaan kasih sayang, pikirkan: SEMOGA MEREKA DALAM KONDISI YANG BAIK. … …
Sekarang bawa ke dalam pikiran anda, teman terdekat kita atau teman-teman yang lain, yang kita rasakan akan mendapatkan manfaat dari pikiran-pikiran simpati kita. Bersama napas-keluar, bawa mereka ke dalam pikiran dan berharap semoga mereka dalam keadaan yang baik; suatu rengkuhan yang lembut, suatu sikap penuh kasih sayang. .....

Tarik napas ke daerah sekitar dada: SEMOGA SAYA DALAM KONDISI YANG BAIK. Keluarkan napas dari daerah sekitar dada: SEMOGA MEREKA DALAM KONDISI YANG BAIK. Bawa ke dalam pikiran anda sekarang, mereka yang berlatih bersama-sama kita, mereka berada di sekitar kita; arahkan pikiran kita keluar, melingkupi mereka semua: SEMOGA MEREKA SEMUA DALAM KONDISI YANG BAIK DAN DAMAI. … …
Sekarang bawa ke dalam pikiran, bentuk Bumi kita seperti kita melihatnya dari luar angkasa. Arahkan pada objek yang penuh warna-warni tersebut, pikiran-pikiran kita: SEMOGA SEMUA MAKHLUK DALAM KONDISI YANG BAIK. Keluarkan napas: SEMOGA SEMUA MAKHLUK DALAM KONDISI YANG BAIK. … …
Dan sekarang bawa ke dalam pikiran kita, suatu bentuk dari kekosongan yang luas dan tak terbatas. Arahkan pikiran kita ke ruang yang tak terbatas itu: SEMOGA SEMUA MAKHLUK DALAM KONDISI YANG BAIK. Biarkan pikiran anda terbuka luas; biarkan hati anda terbuka seluas-luasnya. Tiada lagi batasan antara tubuh anda dengan alam semesta –- tiada batasan – luas – menembus ruang dan waktu. … …

Sekarang dengan hati-hati, dengan sedikit lebih memfokus, bawa kembali perhatian kita ke arah daerah di sekitar dada, suatu titik di tengah-tengah dada kita. Tarik napas dengan halus dan dalam serta munculkan pikiran: SEMOGA SAYA DALAM KONDISI YANG BAIK. Tahan sebentar... biarkan pikiran, sebagai perasaan yang simpati tersebut, menyebar ke seluruh tubuh, memberikan energi dan menyegarkan kita. Kemudian dengan perlahan dan halus, keluarkan napas melalui daerah sekitar dada. Lakukan hal yang sama satu atau dua kali – tarik napas yang dalam, tahan sebentar dan keluarkan. … …

Sekarang bawa ke dalam pikiran, seseorang yang pernah anda sakiti, baik secara disengaja ataupun tidak, yang masih hidup maupun yang sudah meninggal... dan dengan menyebut nama orang itu, katakan: MAAFKANLAH SAYA... Ingat kembali mereka yang pernah anda sakiti... sebut nama mereka dan katakan: MAAFKANLAH SAYA
Berikan perhatian yang dalam pada daerah sekitar dada. Biarkan ia tetap terbuka... dan sekarang bawa ke dalam pikiran anda, seseorang yang pernah menyakiti anda. Sebut nama orang itu dan katakan: SAYA MEMAAFKAN KAMU... Bawa ke dalam pikiran seseorang yang menyakiti anda, sebut nama orang itu dan katakan: SAYA MEMAAFKAN KAMU
Sekarang dengan menyebut nama kita sendiri, katakan: SAYA MEMAAFKAN KAMU... Dengan menyebut nama kita sendiri, katakan: SAYA MEMAAFKAN KAMU... dan... KAMU SAYA MAAFKAN... KAMU SAYA MAAFKAN

Menyatulah dengan perasaan-perasaan kasih sayang itu. Bawa perasaan-perasaan itu ke dalam hati anda; rangkul mereka dengan lembut... Sekarang dengan hati-hati, kembalilah ke napas –- energi napas masuk ke dalam daerah sekitar dada: SEMOGA SAYA DALAM KONDISI YANG BAIK. Resapi dan penuhi diri anda dengan perasaan tersebut. Kemudian keluarkan napas melalui daerah sekitar dada: SEMOGA ORANG LAIN JUGA DALAM KONDISI YANG BAIK.

Begitu sederhana –- menarik napas, menyatu dengan energi. Mengeluarkan napas, mendoakan agar semua orang selalu dalam kondisi yang baik. Mengeluarkan napas untuk semua orang. ...

Manfaat Mengembangkan Cinta Kasih

Na hi verena verāni, sammantῑdha kudācanaṁ
Averena ca sammanti, esa dhammo sanantano

Dalam dunia ini, kebencian tidak pernah dapat dilenyapkan dengan kebencian,
kebencian hanya dapat dilenyapkan dengan tanpa membenci dan saling memaafkan.
Ini adalah kebenaran abadi.
(Dhammapada I:5)

”Jika, O para bhikkhu, pembebasan pikiran dengan cinta kasih dikembangkan dan ditumbuhkan, sering dilatih, dijadikan kendaraan dan landasan seseorang, ditegakkan dengan mantap, disatukan, dan dijalankan dengan tepat, maka sebelas berkah bisa diharapkan. Apakah yang sebelas itu?
Dia tidur dengan nyaman; dia bangun dengan nyaman; dia tidak bermimpi buruk; dia dicintai oleh manusia; dia dicintai oleh makhluk bukan-manusia; dia dilindungi oleh para dewa; api, racun dan senjata tidak bisa melukainya; pikirannya mudah terkonsentrasi; ekspresi wajahnya tenang; dia akan meninggal dengan tidak bingung; dan jika pencapaiannya belum tinggi, dia akan terlahir kembali di alam Brahma.”

Dia tidur dengan nyaman
Banyak orang ketika hendak tidur, tidak langsung tertidur lelap. 15 menit, 30 menit, 1 jam kemudian baru bisa tertidur. Itupun tidur dalam kondisi yang kurang nyaman, sebentar-sebentar terbangun. Bahkan ada yang tidur sambil mendengkur, jadi tidak tidur dengan nyaman. Tidur nyaman disini maksudnya adalah ketika seseorang mau tidur, saat badan menempel kasur dan kepala menyentuh bantal, dalam hitungan detik dia langsung tertidur pulas.

Dia bangun dengan nyaman
Bila seseorang saat tidur dalam keadaan yang kurang nyaman, maka dia akan bangun dengan tidak nyaman. Ketika bangun dia masih mengantuk, badan pegal-pegal, bahkan kepala pusing. Tetapi apabila tidur dengan nyaman, maka dapat bangun dengan nyaman pula. Saat bangun tidur badan dan pikiran menjadi segar.

Dia tidak bermimpi buruk
Dalam tidur kerap kali kita bermimpi, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. Ada seseorang saat tidur terlihat gelisah, berkeringat, bahkan ada yang tiba-tiba lompat dari tempat tidurnya sambil berteriak. Hal ini disebabkan karena dia bermimpi buruk. Ada juga seseorang ketika tidur terlihat sangat tenang. Apabila dia sedang bermimpi, mimpi yang muncul pasti yang menyenangkan, yang baik, yang menggembirakan, seolah-olah sedang berkumpul dengan orang-orang yang dicintai, melakukan puja bakti, bermeditasi, atau mendengarkan Dhamma.

Dia disayangi oleh manusia
Ketika kita berada di dekat orang yang baik, penuh dengan cinta kasih, kita bisa merasakan ketentraman, kita merasa aman. Kita selalu ingin berada di dekat orang tersebut. Dimanapun dia berada, dia selalu diterima dan disambut dengan baik, seperti seorang anak kesayangan yang pergi jauh kemudian kembali lagi ke rumahnya, dia akan disambut dengan penuh sukacita oleh anggota keluarganya.

Dia disayangi oleh makhluk bukan-manusia
Tidak hanya anggota keluarga saja yang menyambut kehadirannya, bahkan para makhluk yang bukan-manusia akan selalu menantikan kedatangannya, karena keberadaan orang yang baik yang dipenuhi dengan cinta kasih selalu bisa menciptakan kedamaian bagi semua makhluk.

Dia dilindungi oleh para dewa
Apabila dia mengalami suatu masalah, banyak yang bersedia menolongnya. Para dewa pun dengan senang hati menolong orang ini, dan akan selalu melindunginya dimanapun dia berada.

Api, racun dan senjata tidak bisa melukainya
Pada masa Sang Buddha, ada seorang umat awam bernama Sāmavatῑ. Dia adalah siswi yang paling terampil dalam mengembangkan cinta kasih universal dan salah satu ratu dari Raja Udena. Suatu ketika dia mendapatkan fitnah dari Ratu Māgandi, dengan cara berusaha memancing kemarahan Raja Udena. Raja Udena memiliki kegemaran memainkan kecapi karena musiknya dapat mengundang gajah-gajah datang menghampirinya. Ratu Māgandi mengetahui kebiasaan Raja Udena dan dia mempunyai siasat licik untuk mencelakai Ratu Sāmavatῑ. Ratu Māgandi menyimpan seekor ular kobra kecil di sebuah kotak bambu yang diam-diam dimasukkan ke dalam kecapi milik raja. Seminggu sekali raja selalu menemani salah seorang ratunya dan beliau selalu membawa kecapinya kemanapun ia pergi.

Ketika raja hendak pergi ke istana Ratu Sāmavatῑ, Ratu Māgandi berkata kepadanya, ”Tuanku, Sāmavatῑ adalah seorang pengikut Samana Gotama. Ia tidak menghargai hidupmu lebih dari nilai sehelai rumput. Ia selalu ingin mencelakaimu. Berhati-hatilah.”
Setelah raja melewati tujuh hari bersama ratu Sāmavatῑ, ia mendatangi ratu Māgandi yang berkata, ”Bagaimana, Tuanku, apakah Sāmavatῑ berpeluang mencelakaimu?” Kemudian, ia mengambil kecapi dari tangan raja, dan mengguncangnya, ia berseru, ”Mengapa ada benda hidup yang bergerak di dalam kecapi ini!”

Dan setelah dengan hati-hati ia membuka lubang kecil di kecapi itu, ia berseru, ”O! Mati aku! Ada ular di dalam kecapi ini!” Ia menjatuhkan kecapi itu dan berlari menjauhinya. Ular  keluar dari kecapi itu dan kejadian ini cukup untuk membangkitkan kemarahan raja. Bagaikan hutan bambu yang terbakar, raja mendesis marah dan berteriak, ”Pergi dan bawa Sāmavatῑ dan seluruh pelayannya ke sini!” Para pengawal segera mematuhinya.

Ratu Sāmavatῑ mengetahui bahwa raja marah kepada mereka. Ia menasehati para pelayannya untuk memancarkan cinta kasih kepada raja sepanjang hari. Ketika mereka dibawa menghadap raja, Sāmavatῑ dan para pelayannya berbaris di hadapan raja yang siap dengan busur dan panah beracun. Mereka tetap memancarkan cinta kasih kepada raja. Raja tidak mampu menembakkan anak panah dan juga tidak dapat menurunkan busur dan anak panah itu. Keringat mengalir di seluruh tubuhnya yang gemetar. Mulutnya meneteskan air liur. Ia menyerupai orang yang tiba-tiba kehilangan kesadarannya.

Ratu Sāmavatῑ berkata, ”Tuanku, apakah engkau merasa letih?” Raja menjawab, ”Ratuku, aku memang merasa letih. Papahlah aku.” ”Baiklah, Tuanku,” ia berkata, ”Arahkan panahmu ke bawah.” Raja mengarahkan panahnya ke bawah. Kemudian Sāmavatῑ berkehendak, ”Semoga anak panah itu terlepas.” Dan seketika anak panah beracun itu jatuh ke lantai.

Pada saat itu Raja Udena pergi dan merendam tubuhnya dalam air dan dengan pakaian dan rambut basah ia menjatuhkan dirinya di kaki Sāmavatῑ, dan berkata, ”Maafkan aku, Ratuku. Aku bodoh sekali menuruti anjuran Māgandi.”
”Aku memaafkanmu, Tuanku” Sāmavatῑ berkata. ”Baiklah, O Ratu, engkau sungguh seorang pemaaf. Mulai saat ini engkau bebas memberikan persembahan kepada Buddha. Berilah persembahan dan pergilah ke vihāra Buddha pada malam hari untuk mendengarkan khotbah. Mulai saat ini engkau akan dilindungi.”

Kisah tentang Ratu Sāmavatῑ ini menjelaskan bahwa dengan kekuatan cinta kasih anak panah beracun tidak dapat melukainya. Selain itu orang yang memiliki cinta kasih dengan mudah memaafkan kesalahan orang lain yang ingin mencelakainya bahkan ingin membunuhnya.

Pikirannya mudah terkonsentrasi
Pikiran yang sering diisi dengan cinta kasih sulit dipengaruhi oleh hal-hal buruk, karena pikirannya selalu diarahkan pada harapan ‘agar semua makhluk berbahagia’,
sehingga orang seperti itu memiliki pikiran yang tenang. Pikiran yang tenang mudah terkonsentrasi.

Ekspresi wajahnya tenang
Mereka yang sering mengembangkan cinta kasih tidak pernah menaruh pikiran curiga kepada orang lain, dia mudah memaafkan kesalahan orang lain. Pikirannya selalu berbahagia sehingga ekspresi wajahnya terlihat tenang

Dia akan meninggal dengan tidak bingung
Menjelang meninggal, orang pada umumnya akan cemas dan bingung. Orang akan mengingat kembali perbuatan yang dilakukannya semasa hidup. Apakah akan terlahir di alam surga atau di alam yang lebih rendah, itulah yang dia pikirkan yang membuatnya jadi bingung. Tetapi ketika ingat bahwa ternyata selama hidupnya selalu mengisi pikirannya dengan cinta kasih, tidak mudah marah, selalu memaafkan kesalahan musuh-musuhnya, maka pikirannya menjadi tenang, dia yakin bahwa kekuatan kebajikan akan membawanya terlahir kembali di alam bahagia. Dengan demikian tidak ada lagi kebingungan ketika dia akan meninggal.

Jika pencapaiannya belum tinggi, dia akan terlahir kembali di alam brahma
Satu hal yang menjadi tujuan hidup adalah bebas dari dukkha, menjadi Arahatta. Tetapi pada kenyataannya, ketika meninggal belum mencapai yang dituju, maka dia akan mengalami kelahiran kembali. Dengan ketekunannya mengembangkan pikiran cinta kasih yang universal dapat menyebabkan dia terlahir di alam Brahma.
Sumber:
Aṅguttara Nikāya XI,16; Visuddhi Magga IX, 59-76; Riwayat Agung Para Buddha buku ketiga, 3046-3048; Dhammapada I:5